Senin, 05 Februari 2018

Aku Kecewa


    Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku harus menerima semua ini. Orang-orang yang setiap harinya terlintas di hidupku hanyalah sebuah kamuflase belaka. Mereka nyata, tapi semu. Seolah mereka ada tapi tidak untukku. Mereka tidak pernah memahami kelemahanku. Awalnya aku bahagia bersama mereka, tapi tidak untuk sekarang. Setelah semua nampak satu per-satu, kini ku yakin bahwa semua itu hanya sebuah kamuflase . Yang kalian anggap “bersama” itu hanya untukmu, golonganmu. Sedang aku? tidak pernah. Kalian tetap kalian, sama sepertiku, aku tetaplah aku. Kita begitu berbeda. Tidak seperti kalian yang menyenangkan bagi diri kalian. Sedang aku? terlalu apa adanya, terlalu tertutup, terlalu malu, terlalu membosankan dan begitu rendah di mata kalian. Sejujurnya, aku berusaha dengan keras untuk berbaik hati dengan kalian. Ku lupakan segala hal yang menyakitkan itu, tapi aku tak sanggup. Aku mencoba menjauh dari kalian dengan cara yang menurutku terlalu lemah. Bukan ! bukan karena aku tak suka, tapi aku tidak pernah merasa memiliki kalian. Aku hanya tidak pernah merasa ada “kita”. Tidak pernah merasa aku adalah kalian dan kalian adalah aku. Aku berjalan sendiri tanpa ada kalian, begitu pula kalian. Aku tidak begitu cukup untuk membuka cerita untuk kalian. Aku terlalu naif sebagai bagian dari kalian.
Beruntungnya aku tidak pernah menyadari itu sebelumnya. Kalau tidak, aku tidak sanggup bersama. Beriringan dengan kalian membuatku muak. Manis di muka, tapi memaki di belakang. Senyum di muka tapi mencemooh di belakang. Aku, memang tidak sempurna. Aku orang yang lemah. Aku tidak sebaik diri kalian dalam hal pergaulan, fashion, atau apalah yang kau sebut dengan bungkus “pertemanan”-mu itu.

     Dan kini aku kecewa. Tidak hanya pada kalian. Tapi untukmu, seseorang yang membuatku terasa asing  kembali di hidupmu seolah kita tidak pernah bertemu. Dulu, setiap kali kita bertemu akan selalu ada beribu cerita yang akan siap kita bagi satu sama lain. Dulu, tawa dan canda selalu kita hiasi di sela-sela rumitnya tugas perkuliahan. Dulu, kau menerimaku dengan segala keterbatasanku. Mendukungku di saat nyaliku menciut. Mendorong dan memotivasiku untuk belajar menerima keadaan. Tapi kini, aku tidak mengenalmu seperti dulu. Kau teramat asing bagiku bahkan untuk sekedar melihatku. Senyummu pelit teramat, matamu begitu dingin, suaramu begitu angkuh. Inginku berkata, “Begitu sombongnya dirimu!” Menjauh, merasa asing dan angkuh. Aku tahu, aku tidak sesempurna teman “sepergaulanmu” saat ini. Aku juga tidak cukup untuk membuatmu tertawa dengan bahan konyolku lagi. Semua berubah saat kau mengenal mereka. Satu per-satu langkahmu kian nyata menjauh dariku. Berjalan dan kini berlari menghilang dariku. Kau, sosok yang sudah tidak ku kenal baik seperti dulu. Sebelumnya aku pikir kita bisa berteman. Tapi, kini kau memilih bersama dengan yang lain. Menggandeng, memeluk, tersenyum seolah dulu kau tak tahu siapa aku. Aku dibuatmu asing, tapi kalau itu maumu, aku akan jauh lebih asing dari yang kau pikir, khusus untukmu, mantan temanku.

      Kau kah temanku ? Oh.. Aku tidak suka kepura-puraanmu, kebohonganmu, senyum palsumu itu, dan segala hal bentuk ketidakterimaanmu padaku. Aku kecewa, sangat kecewa. Dulu, seperti tidak pernah lagi terkenang padamu saat kau telah bersama mereka yang ku sebut “kalian”. Melebur, seolah sudah tak tahu lagi di mana bentuk secuil hatimu yang pernah ku sayang dulu. Pertemanan yang kusebut sebagai sebuah penerimaan tak berujung ternyata salah. Sangat salah. Mungkin aku terlalu sempit untuk mendefinisikan arti sebuah pertemanan. Pertemananmu hanyalah berbungkus materi, kecantikan, dan kesenangan. Benar, tidak akan kau temui semua itu di dalam diriku. Kau benar, aku aneh untukmu. Asing, sangat asing. Beda, sangat beda. Aku tidak cukup untuk sekedar berada di dekatmu lagi. Kau tidak peduli lagi denganku. Menyapaku pun enggan. Aku tidak cukup untuk menampung lagi semua ceritamu. Mungkin, kini ceritamu tak sesederhana yang dulu pernah kau ceritakan padaku. Mungkin aku tidak akan pernah bisa lagi bisa memahami alur pikiranmu. Mungkin aku tidak cukup lagi membalas sapamu. Mungkin aku sangat tidak cukup lagi berjuang dan bersama denganmu. Dan kini aku kecewa, mungkin karena aku rindu semua kebersamaan itu. Aku kecewa karena aku begitu kehilangan seseorang sepertimu. Meski itu dulu, tapi aku rindu. Rindu dengan semua tingkah lucumu. Rindu masakanmu. Mungkin, rinduku berbungkus kekecewaan yang mendalam yang tidak akan pernah kau sadari.

Tapi, kini..


       Aku sadar. Dibalik kekecewaanku padamu akan selalu ada orang-orang hebat yang berbungkus pertemanan apa adanya. Berbungkus penerimaan yang tak terujung-yang definisinya tak berbeda denganku. Mungkin, kau kan mengira bahwa dia teman baruku ? oh, kau sangat salah. Mereka juga temanmu. Teman yang juga kau tinggalkan. Teman yang mungkin akan membuatmu bosan dan jenuh. Teman yang tidak cukup lagi sebanding denganmu. Tapi mereka adalah kekuatanku untuk tetap terseyum padamu, mencoba melupakan kesalahanmu, meski ku tahu sangat sulit ku rasakan. Mereka yang sangat baik memaafkanmu dan tidak mendendam denganmu. Mereka yang teramat sejati untukku. Tidak denganmu, palsu! Mereka yang akan begitu senangnya mendengar kekonyolanku yang dulu juga kau tertawa karena itu. Mereka yang apa adanya. Mereka yang tidak pernah mengungkit keterbatasanku. Mereka yang tidak manis di depan tapi busuk di belakang. Mereka yang teramat sulit ku lupakan sebagai teman. Mereka yang tidak gemar memperlihatkan kebersamaan yang hanya sebuah kamuflase belaka. Iya, mereka semua adalah teman-temanku. Mereka-lah yang dengan sabar mendengar keluh kesahku. Mereka-lah yang dengan lembut mengingatkanku dan bukan menjauh seperti yang kau lakukan padaku. Mereka yang tidak peduli dengan perkataan orang lain tentangku. Mereka yang tidak begitu datang lalu pergi begitu saja sepertimu. Mereka yang mengajarkanku kelembutan dan penerimaan. Seperti harus menyapamu dan menganggap semua tidak terjadi apa-apa. Mereka yang membungkus kekecewaanku denga sebuah penerimaan dan senyuman. Mereka adalah kekuatanku. Kekuatan untuk menerima semua kenyataan bahwa tidak semua akan menjadi milik kita. Tidak semua hal sesuai dengan kehendak kita. Dan tidak semua teman berakhir sepertimu.. !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar