Kamis, 12 Januari 2017

Bahaya Pemanis Buatan


Manis tapi Tak Sehat

Makanan dan minuman yang memiliki rasa manis banyak digemari oleh masyarakat, khususnya anak-anak. Rasa manis dapat ditimbulkan secara alami dari bahan tersebut, misalnya buah-buahan maupun bahan yang sengaja ditambahkan atau yang lebih dikenal dengan pemanis buatan. Namun, pemanis alami jarang digunakan oleh industri karena harganya yang relatif mahal. Pemanis buatan dinilai lebih efektif untuk menekan biaya produksi. Selain harga yang relatif murah, bahan tambahan tersebut memiliki rasa manis yang cukup kuat karena persentase kandungan pemanis yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemanis alami seperti gula. Namun, masih banyak produsen, khususnya pedagang kaki lima yang tidak mengetahui takaran yang diperbolehkan sehingga hal tersebut dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan tubuh diantaranya menimbulkan berbagai macam penyakit. Kandungan senyawa kimia yang terdapat di dalam pemanis buatan bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, pemerintah melalui Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI nomor 4 tahun 2014 telah mengatur penggunaan batas maksimum bahan tambahan pangan pemanis.
Akan tetapi, sebagian besar masyarakat belum mengetahui bahaya yang dapat ditimbulkan dari bahan tambahan tersebut terhadap kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan terutama anak-anak. Umumnya anak-anak setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah. Anak-anak sekolah lebih banyak mengkonsumsi makanan jajanan kaki lima. Hasil kajian terbatas yang dilakukan Badan POM di beberapa sekolah dasar (SD) menemukan banyaknya anak yang mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kadar pemanis buatan sakarin dengan tingkat yang tidak aman. Oleh karena itu, perlu adanya pengawasan dan kontrol orangtua terhadap anak-anak dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Selain itu, pedagang juga perlu mengetahui batasan maksimum yang dapat digunakan untuk memberikan tambahan pangan pemanis buatan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 33 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan, pemanis adalah bahan tambahan pangan berupa pemanis alami dan pemanis buatan yang memberikan rasa manis pada produk pangan. Pemanis alami merupakan pemais yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hasil hewan, misalnya sukrosa, glukosa, dan fruktosa. Sukrosa dan glukosa dapat berasal dari gula pasir dan gula kelapa. Sedangkan fruktosa berasal dari madu, buah-buahan maupun sayuran. Pemanis buatan (artificial sweetener) adalah pemanis yang diproses secara kimiawi dan senyawa tersebut tidak terdapat di alam serta dapat menimbulkan dan mempertajam rasa manis. Namun pemanis buatan memiliki kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan gula sehingga dapat dikatakan sebagai pemanis nirgizi (tidak berkalori). Umumnya, pemanis buatan memiliki struktur kimia yang berbeda dengan gula (Winarno, F.G., 1991: 218).

Mulanya, pemanis buatan digunakan sebagai alternatif pemanis bagi penderita diabetes karena memiliki tingkat kemanisan yang tinggi dengan kandungan gizi yang lebih rendah dibandingkan pemanis alami sehingga dianggap aman untuk dikonsumsi dalam takaran sedikit. Namun saat ini penggunaan bahan tersebut telah secara meluas digunakan di pasaran khususnya produk makanan dan minuman. Pemanis buatan memiliki fungsi antara lain sebagai pengawet, meningkatkan cita rasa dan aroma, memperbaiki sifat-sifat fisik, serta memperbaiki sifat-sifat kimia.
Penggunaan bahan tambahan pangan tersebut didasarkan pada ADI (acceptable daily intake) yaitu jumlah bahan tambahan pangan yang dapat digunakan tanpa menimbulkan bahaya terhadap kesehatan. Berdasarkan Permenkes No 3 tahun 2012 jenis-jenis pemanis buatan meliputi, sakarin, siklamat, dan aspartam.  

a.       Sakarin
Sakarin merupakan salah satu pemanis yang sering digunakan oleh pedagang kaki lima untuk menjual makanan dan minuman seperti permen gulali, es krim, es lilin, jeli, minuman, jamu dan keripik. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI nomor 4 tahun 2014 acceptable daily intake sakarin yaitu 0,5mg/kgBB/hari. Hal ini berarti apabila seseorang memiliki berat badan 50 kg maka batas maksimum sakarin yang dapat dikonsumsi setiap harinya yaitu  50x0,5 mg atau 25 mg atau jika seseorang mengkonsumsi kue dengan kandungan sakarin 500 mg/kg bahan, maka batas maksimum mengkonsumsi bahan makanan tersebut adalah 25/500x1 kg atau 0,5 g kue.

Sakarin memiliki rumus kimia C7H5NO3S berupa serbuk berwarna putih, tidak berbau, dan tidak mudah larut dalam air. Sakarin biasa digunakan dalam bentuk garam natrium, kalium, maupun kalsium. Kemanisan sakarin sekitar 300 kali sukrosa (gula). Sakarin memiliki struktur kimia berikut ini 

(Wisnu, Cahyadi, 2005: 68).

b.         Siklamat
Siklamat atau yang lebih dikenal dengan glutamat (C6H11NHSO3Na ) memiliki acceptable daily intake sebesar 11 mg/kgBB/hari. Siklamat berbentuk kristal berwarna putih, tidak berbau, tidak berwarna, dan mudah larutdalam alcohol serta memiliki intensitas ±30 kali dibandingkan sukrosa (gula). Siklamat lebih tahan panas dan memiliki struktur kimia
.

(Wisnu, Cahyadi, 2005: 66).
Produk yang sering menggunakan bahan tambahan ini yaitu makanan atau minuman kaleng seperti ikan kaleng, susu, sirup, dan makanan siap saji serta minuan bersoda. Berbeda dengan sakarin, siklamat cenderung memiliki rasa yang tidak pahit sehinga penggunaannya dapat dicampur dengan sakarin untuk menambah cita rasa.

C.        Aspartam
Aspartam memiliki rumus kimia C14H16N2O5. Aspartam berbentuk tepung kristal berwarna putih, tidak berbau, sedikit larut dalam air, dan berasa manis. Aspartam memiliki daya kemanisan 250 kali dibandingkan dengan sukrosa (gula). Adapun struktur kimia aspartam yaitu


(Wisnu, Cahyadi.2005:67).

Aspartam digunakan pada produk makanan dan minuman seperti permen penyegar napas, yogurt bebas gula, jus, minuman ringan non-karbonasi, permen karet dan memiliki acceptable daily intake O,4 mg/kgBB/hari.

Pemerintah melalui Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI nomor 4 tahun 2014 dalam pasal 5 menyebutkan bahwa “BTP hanya boleh digunakan tidak melebihi batas makasimum penggunaan dalam kategori pangan”. Bahan tambahan tersebut apabila digunakan dalam takaran yang berlebihan akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Adapun ciri-ciri bahan makanan yang menggunakan bahan pemanis buatan diantaranya
1.         memiliki rasa yang manis pekat
makanan atau minuman akan terasa sangat manis dan tak jarang apabila setelah mengkonsumsinya akan menimbulkan rasa tidak nyaman atau “eneg”.
2.      terdapat rasa pahit atau “overtaste”
pemanis yang terkandung dalam makanan atau minuman akan meninggalkan sisa rasa pahit dalam mulut. Hal ini disebabkan adanya kandungan bahan kimia seperti logam.
3.      membuat tenggorokan menjadi kering
salah satu ciri yang menunjukkan keberadaan pemanis buatan dalam makanan atau minuman yaitu tenggorokan terasa kering sehingga menyebabkan rasa haus yang berlebihan. Jika tidak segera minum air putih, biasanya akan timbul serangan batuk atau gatal pada tenggorokan. Hal ini disebabkan oleh adanya senyawa belerang yang terkandung di dalamnya dan dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan.

Berdasarkan penelitian kimia tentang histopalogi hati mencit (tikus) yang dilakukan oleh Y utomo dkk menyebutkan bahwa sakarin dapat merusak organ hati dalam jangka waktu lama dengan dosis yang berlebihan. Selain itu, timbunan sakarin yang ada di dalam tubuh akan bersifat toksik atau racun yang akan mengakibatkan organ tubuh mengalami kerusakan, menimbulkan anemia, meningkatkan kadar bilirubin, serta tumor. Sedangkan pada pemanis aspartam, apabila dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan fenilketunori. Fenilketonuria merupakan penyakit kerusakan metabolisme tubuh yang dapat mempengaruhi proses pemecahan protein dalam tubuh. Bahaya aspartam lainnya bagi kesehatan yaitu diabetes, kanker,  bayi cacat, epilepsi, sakit kepala, masalah perilaku, sesak nafas, dan alergi (Deny Indra, 2015: 83-85).
Selain sakarin dan aspartam, pemanis siklamat juga dapat berdampak buruk apabila dikonsumsi secara berlebihan. Adapun penyakit yang ditimbulkan diantaranya migrain, kehilangan daya ingat, bingung, insomnia, iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut, alergi, impotensi dan gangguan seksual, kebotakan dan kanker otak (Wardhani, 2006). Sedangkan menurut penelitian hermatologis terhadap tikus putih (Rattus Norvegicus L) disebutkan bahwa siklamat dapat menurunkan kadar hemoglobin darah dan pada dosis yang lebih tinggi dapat menurunkan eritrosit dan meningkatkan leukosit darah.  Selain itu, siklamat mengandung senyawa karsinogenik. Hal ini dapat dilihat dari reaksi hidrolisis Na-siklamat menjadi sikloheksil heksana berikut ini.
Sikloheksil heksana merupakan senyawa karsinogenik atau penyebab kanker (Sakidja, 1989: 498). Martin et al menyatakan bahwa tikus yang diberikan natrium siklamat secara intraperitoneal dalam jangka waktu 10 sampai 14 hari menyebabkan gangguan kehamilan seperti berkurangnya berat janin, berat plasenta dan panjang tali pusat (retardasi perkembangan janin), serta terjadinya hipertrofi sel hati dengan sinusoi kaliber kecil.

Pemanis buatan yan dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit sehingga perlu adanya tindakan preventif terutama bagi orangtua untuk mengawasi dan mengontrol makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak. Adapun usaha yang dapat dilakukan yaitu pertama, mengurangi konsumsi makanan dan minuman dengan bahan pemanis buatan, baik kemasan pabrik maupun yang dijual oleh pedagang kaki lima. Kedua, memperbanyak konsumsi buah-buahan karena buah mengandung pemanis alami dengan jumlah kalori yang cukup dibutuhan oleh tubuh. Buah-buahan mengandung senyawa antioksidan yang dapat mencegah timbulnya sel-sel kanker dalam tubuh. Selain itu, buah juga mengandung lebih banyak vitamin, mineral, serat, air serta nutrisi yang berguna untuk kesehatan tubuh. Ketiga, mengganti pemakaian pemanis buatan dengan pemanis alami seperti gula dan madu. Hal ini karena pemanis alami cenderung tidak memiliki dampak negatif bagi tubuh. Keempat, mencermati label gizi yang berada dalam kemasan makanan dan minuman sebelum mengkonsumsi. Label gizi dapat memberikan informasi tentang jumlah kalori dan kandungan bahan dalam kemasansehingga konsumen dapat menetukan pilihan produk makanan dan minuman yang tepat dan sehat bagi tubuh. Kelima, mengurangi minuman bersoda. Minuman bersoda biasanya mengandung pemanis buatan berupa aspartam. Jika minuman tersebut dikonsumsi secara berlebihan maka akan berdampak buruk bagi kesehatan.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemanis buatan merupakan zat yang dapat menimbulkan dan mempertajam rasa manis serta mengandung kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan gula. Jenis-jenis pemanis buatan diantaranya sakarin, siklamat, dan aspartam. Penggunaannya sebagai bahan tambahan secara berlebihan dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit, mulai dari penyakit ringan hingga berat seperti kanker dan tumor. Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan preventif untuk mencegah dampak buruk akibat mengkonsumsi bahan tambahan tersebut yaitu dengan mengurangi konsumsi, mengganti dengan pemanis alami, mengkonsumsi buah-buahan, dan mencermati label gizi sebelum hendak membeli. Masyarakat  khususnya orangtua hendaknya menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh pemanis buatan, terutama pengawasan terhadap anak-anak. Selain itu, perlu adanya sosialisasi dari pemerintah tentang bahaya yang dapat ditimbulkan dari pemanis buatan.



DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Riandini. dkk. Efek Pemberian Natrium Siklamat secara Oral terhadap Karakteristik Hematologis Tikus Putih (Rattus Norvegicus L.). Jurnal Biosmart. 2003 2(5): 124-130.
Cahyadi wisnu, 2005. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan, Jakarta : PT Bumi Aksara.
Martin et al. 2005. Effect of Sodium Cyclamate on the Rat Fetal Liver : a karyometric and stereological study. Int. J. Morphol. 23(3): 221-226.
Praja, Deny Indra. 2015. Zat Aditif Makanan: Manfaat dan Bahayanya. Yogyakarta : Garudhagawaca.
Sakidja, 1989. Kimia Pangan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 33 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 33 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan
Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka.

Utomo, Y. dkk. Studi Hispatologi Hati Mencit (Mus Musculus L.) diinduksi Pemanis Buatan. Jurnal MIPA. 2012 35 (2): 122-129 .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar